Banyaknya permintaan dan pembelian mesin tetas pada usaha kami menjadi tanda tanya tersendiri bagi kami, untuk apa membeli mesin tetas?. Sebuah pertanyaan yang cukup mendasar akan tetapi kalau kita cermati ada rahasia tersembunyi di balik itu. Alasan mereka membeli mesin tetas sangat beragam, mulai dari yang ingin investasi kecil-kecilan, mau coba-coba menetaskan sendiri, membelikan orang tua biar ada kesibukan, sampai alasan karena ingin mengembangkan ternaknya. Untuk itu kami ingin menuliskan sedikit tentang usaha ini (menetaskan telur) walau usaha yang dijalankan dalam skala kecil.
Yang menjadi catatan adalah jangan pernah meremehkan hal yang kecil, sudah banyak bukti bahwa hal-hal besar hanya bermula dari perkara yang kecil. Begitu juga usaha menetaskan telur terutama ayam kampong, siapa tahu sekarang hanya sekedar iseng menetaskan dan kalau Allah SWT menghendaki suatu saat nanti menjadi suatu usaha pokok yang bisa menopang hidup kita.
Keuntungannya jelas
Mungkin tak terbayangkan oleh kita bahwa usaha menetaskan telur ayam kampong keuntungannya cukup menjanjikan. Apabila serius diusahakan keuntungan usaha penetasan telur ayam kampung ternyata cukup menggiurkan. Saat ini harga sebutir ayam kampung tetas Rp 1.300-1500/butir, sementara harga seekor anak ayam yang baru menetas atau biasa disebut DOC (Day Old Chick) sekitar Rp 3.500-3.600 per ekor, berarti kalau ditetaskan untungnya lebih dari 100 % ?
Usaha mendapatkan telur ayam kampung
Asal ulet dan telaten kita tidak akan kesulitan untuk mendapatkan telur tetas ayam kampong. Telur tetas ayam kampong bisa diperoleh kalau kita keluar-masuk kampung-kampung. Memang kepemilikan ayam kampong masing-masing orang tidak banyak sehingga hal tersebut menjadi kendala kita. Kita semua lebih senang kalau untuk mendapatkan suatu produk berada di satu tempat dari pada harus keliling ke sana ke mari dengan hasil yang belum tentu. Pemeliharaan ayam kampong kebanyakan masih bersifat tradisional, campur jantan-betina sehingga telur yang dihasilkan merupakan telur yang bertunas atau yang bisa di tetaskan. Usaha lain untuk mendapatkan telur ayam kampong tetas bisa membelinya melalui penjual jamu gendong yang menampung telur dari peternak langsung bukan membelinya dari pasar-pasar atau took-toko peracangan di dekitar kita. Awas jangan tertipu, karena kebanyakan sekarang yang beredar di took atau pasar tradisional adalah telur ayam arab tapi kebanyakan penjual menawarkan dengan nama telur ayam kampong.
Mesin penetas telur
Mesin penetas telur bisa didapat dengan tiga cara. Jika mempunyai uang bisa membeli mesin tetas sendiri. Harga yang kami tawarkan mulai Rp 190.000 (kapasitas 30 butir) sampai Rp 2,8 juta (kapasitas 1000 butir). Harga dipengaruhi dari daya tampungnya, bahan yang digunakan dan system pengoperasian mesin penetas itu sendiri. Tidak harus membelinya, kadang ada orang yang mengusahakan persewaan mesin tetas. Akan tetapi membeli atau memiliki sendiri adalah lebih baik karena disamping dipakai sendiri juga bisa disewakan kalau ada yang memerlukan. Mencoba membuat sendiri juga tida ada salahnya, yang penting sudah ada gambaran cara membuatnya dan bahan tersedia.
Pemasaran
Orang ragu bergerak di sektor produksi biasanya terkendala pada faktor pemasaran hasil produksi. Untuk itu jangan bingung untuk memasarkan anak ayam hasil tetasan sendiri. Insyaallah banyak jalannya, antara lain tetangga, koperasi peternak ayam buras kalau sudah ada, atau peternak ayam kampong langsung. Kalau belum langsung terjual setelah menetas, anda bisa membesarkannya sendiri, toh dalam jangka waktu 2 bulan ayam kampong sudah bisa dipanen jika dipelihara dengan system intensif.
sumber : www.sentralternak.com
0 komentar:
Posting Komentar